::ethereal dreamer::

     

           
           
           
           

Hi! Welcome to my world, guys. Posted here are my not-so-daily journal.

Feel free to post any comments, suggestions, or questions!!

ABOUT ME:

Name: Arlin, aka.Ogi
Location: California (no more), in Bandung now
Birthday: 17 Nov 1982
Obsessions: having a life of peace, constant learning
Currently Reading: Bible, Le Petit Nicolas, Anna Karenina
Dreams: to have peace...and love

Wednesday, March 08, 2006
--rasio dan nurani--

Minggu lalu, sempat membaca artikel opini di Kompas, oleh Sarlito W. Sarwono (guru besar psikologi UI). Sebenarnya mulai membaca karena tertarik jabatan sang penulis. Raju dan Nurani, judul opini itu. Mempertanyakan masih adakah nurani di antara aparat negara ini. Mengapa anak kecil tujuh tahun, bisa diadili dengan prosedur standar orang dewasa, disatukan dalam penjara umum, tanpa memandang sama sekali adanya UU Peradilan Anak-anak. Raju, anak kecil yang menangis menjerit-jerit itu, menyentuh hati pemirsa di seluruh penjuru negeri. Tapi hati hakim dan jaksa, sama sekali tidak bergeming. Apakah rationalization akan berujung pada hilangnya nurani? Apakah rasio adalah kapak penghancur jembatan antara hati dan otak? Bayangkan manusia yang berjalan dalam hidup tanpa kilatan emosi di matanya: tiada sedih, murka, benci, cinta, tiada pula belas kasihan. Bayangkan negara yang dijalankan oleh manusia seperti itu. Bayangkan dunia yang dipenuhi oleh manusia seperti itu. Bukan berarti aku merasa bahwa nurani lebih tinggi dari rasio. Bukan berarti aku merasa rasio adalah sesuatu yang kejam dan dingin. Selama Homo sapiens masih bisa berkata, "Gue pikir sih...", berarti rasio takkan punah. Dan selama manusia masih bisa berkata, "Perasaanku...", berarti nurani masih ada. Tapi apa yang hilang? Mengapa rasio dan nurani tidak bisa bernaung di bawah atpa yang sama, tubuh manusia, dengan hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang sama rata? Kalau rasio berkata "Hukum harus tetap berjalan agar roda pemerintahan tidak seret." Maka seharusnya nurani bisa berkata pula "Adakah situasi lain yang mengharuskan hukum dijalankan dengan cara lain?" Mungkin mirip dengan etika situasi (situationalism) yang mengukur tolok ukur etika berdasarkan situasi masing-masing keadaan, rasionalisasi pun harus bisa menimbang pelbagai aspek yang mungkin mempengaruhi penerapan rasio murni. Kesaklekan rasio harus diukur oleh nurani, dan sebaliknya, rasio harus bisa menjadi tulang punggung bagi nurani sebagai suatu standar yang tidak terpengaruh emosi.
Rlynn wandered here @ 3/08/2006 10:16:00 PM
|